Business Owner
Bisnis

Mengapa Biaya Iklan dan Komisi Marketplace Makin Mahal dan Bagaimana Website Sendiri Menjadi Solusi Jangka Panjang

AUTHOR

Dimas Eka Putra

DATE

14 Agustus 2026

READING TIME

79 MENIT

Biaya iklan digital dan komisi marketplace menjadi salah satu tantangan bagi bisnis yang ingin meningkatkan penjualan secara online. Pelajari mengapa biaya tersebut dapat meningkat, bagaimana dampaknya terhadap margin keuntungan, dan mengapa memiliki website sendiri dapat menjadi bagian penting dari strategi bisnis digital jangka panjang.

Banyak bisnis di Indonesia memulai perjalanan digitalnya melalui marketplace dan media sosial. Alasannya sederhana: platform tersebut sudah memiliki jutaan pengguna, menyediakan infrastruktur transaksi, dan memungkinkan bisnis mulai berjualan tanpa harus membangun sistem sendiri.

Namun, ketika bisnis mulai berkembang, muncul pertanyaan yang semakin penting:

Apakah bisnis akan terus bergantung pada platform pihak ketiga untuk mendapatkan pelanggan dan melakukan transaksi?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika biaya pemasaran meningkat, berbagai biaya marketplace harus diperhitungkan, dan bisnis membutuhkan lebih banyak kontrol terhadap hubungan dengan pelanggan.

Memiliki website sendiri bukan berarti harus meninggalkan marketplace atau berhenti menggunakan iklan digital. Justru, website dapat digunakan sebagai aset digital yang melengkapi marketplace dan strategi advertising.

Mengapa Bisnis Semakin Bergantung pada Marketplace?

Marketplace memberikan keuntungan besar bagi penjual, terutama dalam tahap awal.

Penjual tidak perlu membangun sistem katalog, pembayaran, akun pelanggan, keamanan transaksi, maupun infrastruktur marketplace dari nol. Selain itu, marketplace menyediakan akses langsung kepada konsumen yang sudah berada di dalam platform.

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat bahwa marketplace berperan dalam memperluas pasar, meningkatkan transaksi, dan meningkatkan daya saing bisnis. Namun, BPS juga mengidentifikasi sejumlah risiko dari ketergantungan terhadap marketplace, termasuk keterbatasan akses terhadap data pelanggan, perubahan algoritma, persaingan, dan kemungkinan delisting secara sepihak.

Artinya, marketplace memang sangat berguna, tetapi marketplace bukan sepenuhnya aset yang berada di bawah kendali bisnis Anda.

Mengapa Komisi Marketplace Terasa Semakin Berat?

Penting untuk meluruskan satu hal: tidak ada satu angka komisi yang berlaku untuk seluruh marketplace dan seluruh penjual.

Biaya dapat berbeda berdasarkan kategori produk, status penjual, program yang diikuti, jenis layanan, serta kebijakan platform.

Sebagai contoh, ketentuan resmi Shopee yang berlaku pada 2026 mencantumkan biaya administrasi penjual berdasarkan kategori produk. Shopee juga mengenakan biaya proses pesanan tertentu dan menyatakan bahwa biaya dapat berubah dengan pemberitahuan kepada penjual.

Selain biaya administrasi, penjual dapat mengikuti berbagai program tambahan yang memiliki struktur biaya tersendiri. Pada layanan tertentu, misalnya, Shopee mengenakan biaya layanan yang dihitung berdasarkan skema program dan kategori produk.

Pada 2026, aspek perpajakan juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Direktorat Jenderal Pajak menjelaskan bahwa marketplace yang ditunjuk dapat melakukan pemungutan PPh Pasal 22 atas penghasilan pedagang dalam negeri melalui transaksi PMSE. Shopee, Tokopedia, Blibli, dan Lazada termasuk pihak yang tercantum dalam daftar tersebut, dengan mulai pemungutan pada 1 Agustus 2026 untuk penunjukan yang disebutkan dalam halaman DJP.

Karena itu, saat menghitung keuntungan, bisnis sebaiknya tidak hanya melihat:

Harga jual − harga modal = keuntungan

Tetapi mempertimbangkan seluruh komponen biaya yang relevan:

Harga jual − modal − biaya marketplace − biaya promosi − biaya operasional − pajak/biaya terkait = margin bersih

Semakin banyak komponen yang memengaruhi transaksi, semakin penting bagi bisnis untuk memahami margin bersih, bukan hanya omzet.


Mengapa Biaya Iklan Digital Bisa Meningkat?

Hal yang sama berlaku untuk iklan digital.

Tidak tepat mengatakan bahwa biaya iklan Meta atau platform digital selalu naik setiap tahun dengan persentase tertentu. Biaya iklan dapat berubah berdasarkan kondisi pasar, target audiens, tujuan kampanye, kualitas materi iklan, kompetisi dalam auction, dan faktor lainnya.

Meta menjelaskan bahwa iklannya menggunakan sistem ad auction. Ketika terdapat kesempatan untuk menampilkan iklan kepada seseorang, iklan masuk ke dalam lelang untuk menentukan iklan yang akan ditampilkan. Sistem mempertimbangkan berbagai faktor seperti objective, budget, audience, dan creative.

Dengan demikian, ketika bisnis menjalankan kampanye pada audiens yang kompetitif, biaya untuk mendapatkan hasil tertentu dapat berubah.

Platform lain juga menggunakan mekanisme auction. TikTok, misalnya, menjelaskan bahwa performa Auction Ads dipengaruhi oleh bidding, materi iklan, pengaturan audiens, dan struktur akun. TikTok juga menyatakan bahwa cost per action dapat berubah selama sistem mempelajari audiens yang berpotensi melakukan konversi.

Jadi, masalahnya bukan sekadar:

"Harga iklan naik."

Masalah yang lebih fundamental adalah:

Bisnis membayar platform untuk mendapatkan akses dan perhatian pelanggan setiap kali ingin menjangkau pasar.

Selama strategi bisnis sepenuhnya bergantung pada paid traffic, biaya akuisisi pelanggan menjadi salah satu biaya yang harus terus dikelola.


Marketplace dan Iklan Bukan Masalah — Ketergantungan yang Perlu Dikelola

Marketplace dan iklan digital sebenarnya bukan sesuatu yang harus dihindari.

Keduanya justru dapat menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan bisnis.

Marketplace dapat membantu bisnis mendapatkan discovery dan transaksi, sedangkan iklan dapat membantu bisnis menjangkau calon pelanggan secara lebih cepat.

Masalah muncul ketika kedua channel tersebut menjadi satu-satunya sumber penjualan.

Bayangkan sebuah bisnis yang seluruh penjualannya berasal dari marketplace.

Jika:

  • biaya layanan berubah,
  • struktur komisi berubah,
  • algoritma pencarian berubah,
  • persaingan harga meningkat,
  • akun terkena pembatasan,
  • atau performa organik menurun,

maka bisnis tersebut harus beradaptasi terhadap perubahan yang berada di luar kendalinya.

BPS juga menyoroti adanya ketimpangan daya tawar dalam ekosistem marketplace serta risiko terkait akses data pelanggan dan perubahan algoritma.

Karena itu, strategi yang lebih sehat adalah membangun diversifikasi channel.

Dan salah satu aset yang dapat digunakan untuk itu adalah website sendiri.


Website Sendiri: Mengubah Traffic Menjadi Aset Digital

Website sendiri bukan sekadar halaman untuk menampilkan alamat, produk, atau nomor WhatsApp.

Jika dirancang dengan benar, website dapat menjadi pusat dari ekosistem digital bisnis.

Misalnya:

Meta Ads → Landing Page → WhatsApp / Form / Checkout → Database Pelanggan

Atau:

Google Search → Website → Product Page → Checkout

Dalam model tersebut, website berfungsi sebagai titik yang menghubungkan berbagai sumber traffic.

Berbeda dengan marketplace, struktur website dapat dirancang sesuai kebutuhan bisnis.

Anda dapat menentukan:

  • struktur halaman,
  • informasi produk,
  • desain brand,
  • call-to-action,
  • formulir lead,
  • integrasi WhatsApp,
  • sistem checkout,
  • sistem pembayaran,
  • analytics,
  • integrasi CRM,
  • hingga integrasi dengan aplikasi internal.

Google sendiri menyediakan panduan khusus untuk website ecommerce dan menjelaskan bahwa struktur website, navigasi, serta informasi produk dapat membantu Google memahami dan menemukan konten ecommerce.

Dengan kata lain, website dapat menjadi fondasi yang menghubungkan berbagai channel marketing, bukan hanya sebuah brosur digital.


Website Sendiri Tidak Menghilangkan Biaya Iklan

Ini juga merupakan hal yang perlu dipahami.

Memiliki website bukan berarti bisnis tidak perlu membayar iklan lagi.

Jika bisnis menggunakan Meta Ads untuk mendatangkan traffic, biaya advertising tetap ada.

Perbedaannya terletak pada ke mana traffic tersebut diarahkan dan apa yang dapat dilakukan setelah pengguna datang.

Misalnya:

Model 1: Marketplace

Iklan → Marketplace → Produk → Transaksi

Setelah transaksi selesai, hubungan bisnis dengan pelanggan masih berada dalam ekosistem marketplace.

Model 2: Website

Iklan → Website → Landing Page → Lead / Checkout → Customer Data

Dengan website, bisnis memiliki ruang yang lebih besar untuk merancang pengalaman pelanggan dan membangun sistem pemasaran sendiri.

Karena itu, website sebaiknya tidak diposisikan sebagai pengganti marketplace secara langsung.

Lebih tepat jika website diposisikan sebagai aset milik bisnis yang melengkapi marketplace dan advertising.


Website Membantu Mengurangi Ketergantungan pada Satu Channel

Strategi digital yang lebih kuat biasanya tidak bergantung pada satu sumber traffic.

Bisnis dapat membangun beberapa channel:

ChannelFungsi

Marketplace

Mendapatkan transaksi dan menjangkau pembeli di dalam platform

Meta Ads

Mendatangkan traffic dan calon pelanggan

Google Search

Mendapatkan traffic dari pencarian yang relevan

Website

Menjadi pusat informasi, lead, dan transaksi

WhatsApp

Komunikasi dan follow-up pelanggan

Email / CRM

Retensi dan komunikasi pelanggan

Social Media

Membangun awareness dan komunitas

Dengan struktur seperti ini, perubahan pada satu platform tidak otomatis menghentikan seluruh aktivitas digital bisnis.


SEO Membuat Website Berpotensi Mendatangkan Traffic Tanpa Membayar Per Klik

Salah satu alasan website dapat menjadi investasi jangka panjang adalah search engine optimization (SEO).

Berbeda dengan paid advertising yang membutuhkan anggaran ketika kampanye berjalan, halaman website yang berhasil memperoleh visibilitas organik di mesin pencari dapat terus mendatangkan pengunjung selama kontennya tetap relevan dan mampu bersaing.

Namun, SEO bukan berarti "gratis".

Bisnis tetap membutuhkan investasi untuk:

  • riset keyword,
  • pembuatan konten,
  • technical SEO,
  • optimasi halaman,
  • pengembangan website,
  • link building jika relevan,
  • serta pemeliharaan dan evaluasi performa.

Google menjelaskan bahwa website ecommerce perlu memiliki struktur yang memungkinkan Google menemukan dan memahami halaman produk serta hubungan antarhalaman. Google juga merekomendasikan penggunaan sitemap dan proses indexing ketika meluncurkan website ecommerce baru.

Karena itu, SEO lebih tepat dipandang sebagai investasi dalam visibility jangka panjang, bukan sebagai cara instan untuk mendapatkan traffic gratis.


Website Juga Membuka Peluang Membangun Database Pelanggan

Salah satu keterbatasan penting dalam marketplace adalah akses bisnis terhadap data pelanggan.

BPS secara eksplisit mencatat keterbatasan akses terhadap data pelanggan sebagai salah satu risiko dalam penggunaan marketplace.

Dengan website sendiri, bisnis dapat merancang mekanisme pengumpulan data secara lebih langsung dan sesuai dengan ketentuan privasi yang berlaku.

Contohnya:

  • formulir inquiry,
  • pendaftaran akun,
  • newsletter,
  • WhatsApp,
  • permintaan quotation,
  • loyalty program,
  • atau sistem membership.

Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk membangun proses customer relationship management (CRM).

Tujuannya bukan sekadar mengumpulkan sebanyak mungkin data.

Yang lebih penting adalah membangun izin dan mekanisme yang tepat agar bisnis dapat kembali berkomunikasi dengan pelanggan secara relevan.


Website Sendiri Juga Bisa Menjadi Fondasi untuk Sistem Bisnis

Bagi bisnis yang semakin berkembang, kebutuhan digital biasanya tidak berhenti pada website company profile.

Kebutuhan dapat berkembang menjadi:

  • katalog produk,
  • ecommerce,
  • payment gateway,
  • booking system,
  • membership,
  • dashboard pelanggan,
  • CRM,
  • inventory,
  • POS,
  • integrasi WhatsApp,
  • API,
  • mobile application,
  • hingga sistem internal.

Di sinilah website yang dibangun secara custom dapat memberikan fleksibilitas lebih besar.

Website tidak harus berdiri sendiri.

Ia dapat menjadi bagian dari ekosistem teknologi bisnis.

Sebagai contoh:

Website → API → CRM → Mobile App → Dashboard Admin

Dengan arsitektur seperti ini, bisnis dapat menambahkan fitur sesuai kebutuhan tanpa harus selalu mengikuti struktur platform marketplace.


Apakah Bisnis Harus Berhenti Berjualan di Marketplace?

Tidak.

Dalam banyak kasus, keputusan yang lebih masuk akal bukan memilih antara marketplace atau website, tetapi menggunakan keduanya dengan fungsi yang berbeda.

Marketplace dapat digunakan untuk:

  • mendapatkan pelanggan baru,
  • memanfaatkan traffic yang sudah tersedia,
  • mengikuti kebiasaan belanja konsumen,
  • dan meningkatkan jangkauan produk.

Website dapat digunakan untuk:

  • membangun brand,
  • mendapatkan traffic dari Google,
  • mengarahkan traffic dari iklan,
  • mengumpulkan leads,
  • menyediakan informasi produk yang lebih lengkap,
  • membangun database pelanggan,
  • dan mengembangkan sistem digital bisnis.

Dengan demikian, marketplace menjadi channel, sedangkan website menjadi aset digital yang dikendalikan bisnis.


Kapan Bisnis Sebaiknya Mulai Memiliki Website?

Tidak ada satu angka omzet yang secara universal menentukan kapan sebuah bisnis wajib membuat website.

Namun, website mulai semakin relevan ketika bisnis mengalami beberapa kondisi seperti:

  1. Sudah memiliki produk atau layanan yang jelas.
  2. Sudah mulai menjalankan iklan secara rutin.
  3. Memiliki pelanggan atau leads yang terus bertambah.
  4. Membutuhkan sistem pemesanan atau pembayaran sendiri.
  5. Membutuhkan tampilan brand yang lebih profesional.
  6. Mulai ingin mendapatkan traffic dari Google.
  7. Membutuhkan integrasi dengan sistem internal.
  8. Tidak ingin seluruh penjualan bergantung pada satu platform.

Jika beberapa kondisi tersebut sudah terjadi, website bukan lagi sekadar "pelengkap".

Website dapat menjadi bagian dari infrastruktur bisnis digital.


Website + Meta Ads: Kombinasi yang Lebih Terukur

Website juga dapat memperkuat strategi advertising.

Meta menjelaskan bahwa keberhasilan iklan dipengaruhi oleh objective, audience, budget, duration, dan creative.

Sementara itu, platform advertising seperti TikTok juga menyediakan mekanisme untuk menghubungkan event dari website atau aplikasi dengan sistem advertising sehingga tindakan pengguna setelah melihat iklan dapat diukur.

Dalam praktiknya, website dapat digunakan sebagai tempat untuk mengukur tindakan yang lebih dekat dengan tujuan bisnis, seperti:

  • mengisi form,
  • menghubungi WhatsApp,
  • melakukan pembelian,
  • mendaftar,
  • melakukan booking,
  • atau meminta penawaran.

Artinya, advertising tidak hanya berhenti pada berapa banyak orang yang melihat iklan, tetapi dapat diarahkan menuju apa yang dilakukan pelanggan setelah klik.


Website Bukan Biaya Sekali Jadi

Ada satu kesalahpahaman lain yang perlu dihindari.

Website profesional bukanlah investasi yang selesai pada hari website diluncurkan.

Agar memberikan manfaat jangka panjang, website membutuhkan:

  • hosting,
  • domain,
  • maintenance,
  • security update,
  • backup,
  • monitoring,
  • SEO,
  • content update,
  • analytics,
  • dan pengembangan fitur jika kebutuhan bisnis berubah.

Karena itu, sebelum membangun website, bisnis sebaiknya menentukan tujuan yang jelas.

Bukan sekadar:

"Saya ingin punya website."

Tetapi:

"Apa fungsi website ini terhadap bisnis saya?"

Apakah untuk mendapatkan leads?

Menjual produk?

Menerima booking?

Membangun kredibilitas?

Mendapatkan traffic dari Google?

Atau menjadi platform utama operasional bisnis?

Jawaban tersebut akan menentukan jenis website dan teknologi yang diperlukan.


Jangan Mengganti Marketplace, Bangun Aset Digital Anda Sendiri

Marketplace dan advertising tetap memiliki tempat penting dalam strategi digital bisnis.

Namun, semakin besar bisnis, semakin penting untuk memiliki aset yang tidak sepenuhnya bergantung pada perubahan kebijakan platform.

Website sendiri dapat menjadi pusat dari strategi tersebut.

Bukan berarti biaya marketing akan langsung hilang.

Bukan berarti website otomatis menghasilkan penjualan.

Dan bukan berarti marketplace tidak lagi diperlukan.

Yang berubah adalah struktur ketergantungan bisnis.

Alih-alih:

Marketplace → Pelanggan

atau

Iklan → Marketplace → Pelanggan

bisnis dapat membangun ekosistem:

Google / Social Media / Marketplace / Ads → Website → Lead / Customer → CRM → Retensi

Inilah alasan website dapat menjadi investasi jangka panjang.


Saatnya Membangun Website yang Bekerja untuk Bisnis

Membangun website sebaiknya tidak hanya berfokus pada tampilan.

Website yang baik harus mempertimbangkan tujuan bisnis, pengalaman pengguna, performa, SEO, integrasi, keamanan, dan kemampuan untuk berkembang.

Nomenklatur Studio menyediakan layanan pengembangan website, aplikasi mobile, dan Meta Ads untuk membantu bisnis membangun ekosistem digital yang lebih terintegrasi.

Nomenklatur Studio mengembangkan berbagai jenis solusi, mulai dari company profile, landing page, sistem informasi, hingga ecommerce, serta aplikasi mobile untuk Android dan iOS.

Untuk bisnis yang membutuhkan traffic sekaligus sistem digital, kombinasi website + Meta Ads juga dapat menjadi pendekatan yang lebih terstruktur: iklan digunakan untuk mendatangkan calon pelanggan, sementara website menjadi tempat untuk memberikan informasi, menangkap leads, atau memproses transaksi.

Jika bisnis Anda saat ini masih sangat bergantung pada marketplace atau paid advertising, mungkin sudah waktunya mulai memikirkan pertanyaan yang lebih strategis:

Berapa banyak aset digital bisnis Anda yang benar-benar Anda miliki dan kendalikan sendiri?

Karena dalam jangka panjang, membangun bisnis digital bukan hanya tentang mendapatkan traffic.

Yang lebih penting adalah membangun aset yang dapat terus digunakan untuk mendapatkan, melayani, dan mempertahankan pelanggan.


Referensi

  1. Meta for Business — The Ad Auction.
  2. Google Search Central — SEO Best Practices for Ecommerce Sites.
  3. Google Search Central — Help Google Understand Your Ecommerce Site Structure.
  4. Google Search Central — How to Launch a New Ecommerce Website.
  5. BPS — Weighing the Benefits and Risks of Marketplace Use in E-Commerce.
  6. Direktorat Jenderal Pajak — Pemungutan PPh oleh Marketplace.
  7. Shopee Indonesia — Syarat Layanan Shopee.
  8. TikTok Ads Manager — Solusi Bidding & Anggaran untuk Pengoptimalan Kinerja.
  9. TikTok Ads Manager — Praktik Terbaik Auction Ads.
  10. Nomenklatur Studio — Layanan dan profil perusahaan.
Bisnis

Punya ide?
Mari wujudkan.

Kami sedang menerima proyek baru untuk Q3 2026.
Hubungi kami untuk konsultasi gratis.