Biaya komisi marketplace terus naik dan margin UMKM makin tipis. Kenali 7 alasan berbasis data mengapa memiliki website sendiri kini menjadi langkah strategis, bukan sekadar pelengkap, bagi UMKM Indonesia yang ingin bertahan dan tumbuh.
Selama bertahun-tahun, marketplace seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop menjadi pintu masuk paling populer bagi UMKM Indonesia untuk berjualan online. Prosesnya mudah, trafiknya besar, dan kepercayaan konsumen terhadap platform-platform ini sudah terbentuk. Namun, kemudahan itu punya harga yang terus naik dari waktu ke waktu, dan pelaku usaha yang hanya mengandalkan satu kanal penjualan kini mulai merasakan dampaknya secara langsung pada margin keuntungan mereka.
Pada Mei 2026, sejumlah marketplace besar di Indonesia menaikkan struktur biaya layanan mereka secara hampir bersamaan. Batas maksimum komisi dinamis per item di Tokopedia dan TikTok Shop, misalnya, melonjak dari Rp40.000 menjadi Rp650.000, hampir 15 kali lipat dari sebelumnya. Untuk sejumlah skema penjualan di Shopee, total biaya yang harus ditanggung penjual bahkan diperkirakan bisa melampaui 20% dari nilai transaksi bila seluruh layanan tambahan digunakan.
Kondisi ini mendorong semakin banyak pelaku usaha, mulai dari UMKM kecil hingga brand lokal yang sudah mapan, untuk mulai mengarahkan sebagian strategi penjualan mereka ke kanal yang sepenuhnya mereka kendalikan sendiri: website resmi milik bisnis. Bukan berarti harus keluar total dari marketplace, tetapi memiliki "rumah digital" sendiri kini menjadi fondasi yang semakin penting agar bisnis tidak sepenuhnya bergantung pada kebijakan pihak lain.
Berikut 7 keuntungan memiliki website sendiri bagi UMKM Indonesia, disusun berdasarkan data dan referensi yang dapat ditelusuri.
1. Struktur Biaya Jangka Panjang yang Lebih Terkendali
Berjualan di marketplace berarti menanggung serangkaian biaya berlapis: komisi platform, biaya layanan dinamis, biaya proses pesanan, hingga biaya penarikan dana. Di Shopee, misalnya, biaya admin untuk Kategori A tercatat sebesar 10% ditambah biaya proses sekitar Rp1.250 per pesanan. Di Tokopedia, komisi platform berkisar 2,5%–12,2% tergantung kategori produk, dengan tambahan biaya layanan dinamis sebesar 3%–8%.
Angka-angka ini terus bergerak naik. Tokopedia menaikkan biaya layanannya hingga 6,5% untuk kategori tertentu sejak 2024, dan pada Mei 2026 sejumlah platform besar kembali menyesuaikan skema biaya mereka secara serentak. Bagi UMKM dengan margin keuntungan yang sudah tipis, setiap kenaikan persentase kecil bisa berdampak besar begitu volume penjualan bertambah.
Website sendiri tidak menghapus seluruh biaya operasional (tetap ada biaya domain, hosting, payment gateway, dan pengelolaan), tetapi struktur biayanya jauh lebih transparan dan tidak berubah sewaktu-waktu mengikuti kebijakan sepihak pihak ketiga. Setelah dibangun dengan benar, biaya per transaksi cenderung jauh lebih rendah dibanding potongan berlapis di marketplace, terutama untuk bisnis dengan volume penjualan yang terus bertumbuh.
2. Kepemilikan Penuh atas Data dan Relasi Pelanggan
Di marketplace, data pelanggan seperti nomor telepon dan riwayat interaksi sepenuhnya berada di bawah kendali platform, bukan penjual. Artinya, ketika seorang pembeli menyelesaikan transaksi di marketplace, bisnis Anda tidak benar-benar "memiliki" pelanggan tersebut untuk keperluan komunikasi jangka panjang, follow-up, atau program loyalitas.
Dengan website sendiri, setiap data yang terkumpul, mulai dari kontak, riwayat pembelian, hingga preferensi produk, sepenuhnya menjadi aset bisnis Anda. Data ini bisa dimanfaatkan untuk email marketing, program membership, retargeting iklan, hingga analisis perilaku pelanggan secara mendalam. Ini adalah perbedaan mendasar antara "menyewa akses ke pelanggan" dan "membangun basis pelanggan sendiri" yang nilainya akan terus bertambah seiring waktu.
3. Kontrol Penuh atas Branding dan Pengalaman Pengguna
Di marketplace, tampilan toko Anda dibatasi oleh template yang seragam untuk semua penjual. Logo, warna, tata letak, hingga cara produk ditampilkan mengikuti aturan platform, bukan identitas brand Anda. Hal ini membuat sulit membangun kesan yang benar-benar berbeda dari kompetitor yang berjualan produk serupa di platform yang sama.
Website sendiri memberi keleluasaan penuh untuk merancang pengalaman belanja sesuai identitas brand: dari storytelling produk, desain visual, alur checkout, hingga cara Anda berkomunikasi dengan calon pelanggan. Konsistensi branding seperti ini penting untuk membangun kepercayaan jangka panjang, terutama bagi UMKM yang ingin naik kelas dari sekadar "penjual" menjadi sebuah brand yang dikenal.
4. Aset Digital yang Bekerja Terus-Menerus lewat SEO
Salah satu keunggulan terbesar website yang sering diabaikan UMKM adalah potensi trafik organik dari mesin pencari seperti Google. Berbeda dengan marketplace yang mengharuskan Anda terus membayar biaya promosi agar produk tetap terlihat, website yang dioptimalkan dengan strategi SEO (Search Engine Optimization) yang tepat dapat terus menjaring calon pelanggan baru dari pencarian organik tanpa biaya iklan berulang.
Ini berarti setiap artikel, deskripsi produk, atau halaman layanan yang Anda buat berpotensi menjadi aset yang terus "bekerja" mendatangkan pengunjung baru, bulan demi bulan, tanpa harus membayar biaya penempatan seperti di marketplace. Semakin lama website Anda berjalan dan dioptimalkan, semakin besar pula akumulasi nilai trafik organiknya.
5. Tidak Terikat pada Perubahan Algoritma dan Kebijakan Sepihak
Salah satu risiko terbesar berjualan hanya di marketplace adalah ketergantungan pada visibilitas yang diatur sepenuhnya oleh algoritma platform. Ketika platform mengubah aturan pencarian produk, kebijakan biaya, atau bahkan menutup akun karena pelanggaran yang tidak disengaja, bisnis Anda bisa kehilangan akses ke seluruh pelanggan dalam sekejap tanpa banyak jalan keluar.
Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan memang dilaporkan tengah mengkaji revisi regulasi terkait biaya admin e-commerce, namun hingga pertengahan 2026 belum ada kepastian regulasi yang secara langsung melindungi margin penjual dari kenaikan biaya platform. Kondisi ini menegaskan bahwa strategi bisnis tidak sebaiknya digantungkan sepenuhnya pada kebijakan pihak eksternal yang bisa berubah kapan saja. Website sendiri memberi bisnis Anda kanal yang stabil dan berada sepenuhnya di bawah kendali Anda sendiri.
6. Meningkatkan Kredibilitas dan Kepercayaan Calon Pelanggan
Memiliki website resmi dengan domain sendiri (bukan sekadar tautan toko di marketplace) memberikan kesan profesional dan meningkatkan kepercayaan calon pelanggan, terutama untuk transaksi bernilai lebih besar, kerja sama B2B, atau calon klien dari luar kota bahkan luar negeri. Website yang lengkap dengan informasi bisnis, portofolio, testimoni, dan kontak resmi memberikan sinyal legitimasi yang sulit didapatkan hanya dari sebuah etalase toko di marketplace.
Bagi UMKM yang ingin mengembangkan skala bisnis, misalnya menjalin kemitraan, mengikuti tender, atau mendapatkan pembiayaan, website resmi sering kali menjadi salah satu bahan verifikasi kredibilitas yang dicari oleh calon mitra maupun lembaga keuangan.
7. Integrasi yang Lebih Fleksibel dengan Strategi Pemasaran Lain
Website sendiri jauh lebih mudah diintegrasikan dengan berbagai kanal pemasaran digital lainnya, seperti iklan Meta (Facebook & Instagram Ads), WhatsApp Business, email marketing, hingga tools analitik seperti Google Analytics. Anda bisa memasang pixel tracking untuk retargeting, menyusun funnel penjualan yang lebih terarah, dan mengukur performa kampanye secara lebih detail dibandingkan hanya mengandalkan fitur bawaan marketplace.
Kombinasi website dan iklan Meta yang terukur, misalnya, memungkinkan calon pelanggan yang sempat mengunjungi website tanpa membeli untuk "dikejar kembali" lewat iklan yang lebih personal, sebuah strategi yang jauh lebih terbatas jika Anda hanya beroperasi di dalam ekosistem tertutup marketplace.
Konteks Digitalisasi UMKM di Indonesia
Urgensi memiliki kanal digital sendiri ini juga sejalan dengan tantangan digitalisasi UMKM secara nasional. Per akhir 2025, jumlah UMKM non-pertanian di Indonesia tercatat mencapai lebih dari 30,2 juta unit usaha, sementara total keseluruhan UMKM diperkirakan melampaui 64 juta unit usaha. Dari jumlah tersebut, sekitar 22,9 juta UMKM telah terhubung ke ekosistem digital menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika, namun survei Bank Indonesia mencatat baru sekitar 41% pelaku UMKM yang memiliki literasi digital dasar seperti pemanfaatan media sosial atau sistem pembayaran digital.
Data lain menunjukkan bahwa UMKM yang mengadopsi teknologi digital secara optimal dapat mencatatkan pertumbuhan penjualan hingga 30%, sementara UMKM turut menyumbang sekitar 97% penyerapan tenaga kerja dan 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Dengan kontribusi sebesar itu, langkah UMKM untuk memperkuat kanal digital mandiri, bukan hanya bergantung pada satu platform pihak ketiga, menjadi bagian penting dari ketahanan ekonomi digital Indonesia secara keseluruhan.
Jadi, Apakah Harus Berhenti Total dari Marketplace?
Tidak sepenuhnya. Marketplace tetap punya kelebihan dari sisi trafik instan dan kepercayaan konsumen yang sudah terbentuk, sehingga cocok digunakan sebagai salah satu kanal akuisisi pelanggan baru. Namun, menjadikan website sendiri sebagai pusat kendali bisnis, tempat data pelanggan terkumpul, branding terbangun, dan strategi pemasaran terintegrasi, adalah langkah yang semakin relevan di tengah kenaikan biaya dan ketidakpastian kebijakan marketplace.
Strategi yang paling realistis bagi kebanyakan UMKM bukanlah memilih salah satu secara ekstrem, melainkan membangun kombinasi keduanya: tetap memanfaatkan marketplace untuk menjangkau pembeli baru, sambil secara bertahap mengarahkan pelanggan setia menuju website dan kanal komunikasi milik sendiri agar hubungan jangka panjang dengan mereka tidak sepenuhnya bergantung pada pihak ketiga.
Saatnya Membangun Website Bisnis Anda Sendiri
Membangun website yang benar-benar efektif untuk berjualan bukan sekadar memasang halaman online, tetapi memerlukan perencanaan struktur, desain yang membangun kepercayaan, optimasi SEO, hingga integrasi dengan kanal pemasaran seperti iklan Meta agar benar-benar mendatangkan calon pelanggan dan bukan hanya menjadi etalase pasif.
Nomenklatur Studio adalah software house yang membantu UMKM dan bisnis di Indonesia membangun kanal digital mandiri secara menyeluruh, mulai dari:
- Pengembangan Web — company profile, landing page, hingga sistem e-commerce dengan stack modern seperti Next.js, TypeScript, dan Go, dirancang untuk performa cepat dan siap dioptimasi SEO.
- Pengembangan Aplikasi Mobile — aplikasi Android dan iOS berbasis Flutter untuk bisnis yang ingin memberikan pengalaman belanja lebih personal kepada pelanggan setia.
- Meta Ads Specialist — pengelolaan kampanye iklan Facebook & Instagram yang terukur untuk mengarahkan trafik berkualitas langsung ke website Anda.
Dengan pengalaman membangun lebih dari 25 proyek digital bagi berbagai klien di Indonesia, Nomenklatur Studio siap membantu UMKM Anda memiliki kanal penjualan sendiri yang kredibel, hemat biaya jangka panjang, dan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kebijakan marketplace.
Konsultasikan kebutuhan website atau aplikasi bisnis Anda secara gratis lewat WhatsApp, dan mulai bangun fondasi digital bisnis Anda sendiri hari ini.
Referensi
- UKMINDONESIA.ID — Biaya Marketplace Naik Mei 2026, Seller UMKM Harus Tahu Strategi Bertahan Ini
- bitbybit Studio — Komisi Marketplace: Biaya Tersembunyi
- Tempo.co — Biaya Layanan Tokopedia, Shopee dan Lazada Naik sampai 6,5 Persen
- Datasatu.com — Tarif Komisi Marketplace Makin Tinggi, Seller Harus Hitung Ulang Margin
- Metrotvnews.com — Kemenko PM Jangkau 35% UMKM yang Belum Optimal Gunakan Teknologi
- Neraca.co.id — Digitalisasi UMKM Dukung Aktivitas Perdagangan
- UKMINDONESIA.ID — Data UMKM, Jumlah dan Pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Indonesia
- Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisiplin Vol 9 No. 10, Oktober 2025 (mengutip data Kominfo 2024 & Bank Indonesia 2023) — sejurnal.com


